Di bumi ku berpijak

Assalamualaikum wr. wb

Sebagai prolog blog baru ku akan sedikit kuuraikan mengenai siapa diriku yang sebenarnya. Panggil saja kau Lenny, sebenarnya nama panggilan ini baru aku gunakan sejak aku masuk bangku kuliah. Dengan kata lain aku menanggalkan nama panggilan lamaku semasa SMA. Orang rumah, kerabat, tetangga dan teman-temanku SD memanggilku “Widy”. Yaa panggil saja aku “Lenny” atau “Widy” keduanya adalah nama yang bagus.

Aku asli orang pati, kota kecil yang beberapa kali disinggung dosen kewarganegaraan ku sebagai kota termiskin di Jawa Tengah. Tapi tunggu dulu bu, saya rasa Pati nggak miskin-miskin amat kok, sejauh mata memandaang jumlah masyarakat Pati yang memutuskan hidupnya untuk menjadi pengamen dan pengemis masih jauh di bawah Semarang. Yaa Pati memang miskin, untuk itu ini menjadi PR bagi mahasiswa asal Pati untuk menuntut ilmu lalu kemudian pulang dan melakukan gerakan perubahan di kampung halaman kami.

Ribuan sawah membantang berbanding terbalik dengan jumlah perumahan dan jumlah tempat karaoke. Bukannya aku menjelek-jelekkan daerahku, tapi sudah menjadi rahasia umum jika di Pati banyak bertaburan tempat karaoke (dalam tanda kutip). Aku sendiri pernah membuktikan sendiri, saat itu sekitar jam2 pagi aku dan kakakkku keluar untuk suatu keperluan, disepanjang jalan yang rentan desas desus “daerah mesum” banyak bertebaran laki2 dan perempuan dengan setelan baju minim. Mana ada orang normal di pagi buta mengenakan baju seperti itu? Toh di Pati udaranya lumayan dingin kalau malam (dibandingkan dengan Tembalang). Berkaca dari negeri Barat, memang sudah pasti terlintas kebebasan rakyatnya dalam segala hal terutama soal berbusana. Disana orang menggunakan pakaian dalam “kondisi dan waktu yang tepat”, saat di pantai pakai bikini saat musim dingin pakai baju tebal dan tertutup. Bagaimana kalau di Indonesia? Sudahkah menggunakan baju di waktu dan kondisi yang tepat. Tentunya statement di atas bukan dibarengi dengan persetujuan pengggunaan bikini di pantai. Seluruh belahan bumi tau, Indonesia adalah negara bermoral dan bermartabat, tentunya statement di atas bukan sekedar isapan jempol bukan?

Berbicara mengenai tempat mesum, hampir disetiap daerah kabupaten memiliki tempat khusus untuk menampungnya. Seperti “gang doli” yang ada di Jawa Timur, “sarkem” di Jogja dan lain-lain. Untuk sekedar info saja, tempat haram itu dikenal dengan nama “lorong indah” kalau di Pati atau biasa disebut dengan “LI”. Dari hati saya yang paling dalam, saya sangat tidak setuju dengan didirikannya tempat begituan, buat apa memelihara harimau di kandang ayam?? Seperti menyimpan borok yang tidak pernah di obati. Bukankah negeri ini negeri yang beragama? Toh semua agama melarang perilaku bejat seperti itu. Masa ya rela-rela aja tho membiarkan aksi-aksi menyimpang dilakkukan secara berkesinambungan selama mata dan hati kita masih bisa melihat.

Kemudian saya teringat dengan statement salah seorang tokoh agama yang disegani di Pati, dan sekarang berdomisili di Jakarta karena suatu amanah. Dia bilang menyediakan tempat khusus prostitusi sama dengan membangun selokan. Ketika limbah wc tidak dibuang ke selokan, maka kotoran dan najis itu akan meleber kemana-mana. Maksudnya adalah jika tidak disediakan tempat khusus maka para “lakon wanita” akan menjajakkan diri mereka disembarang tempat. Bukankah hal itu lebih menjijikkan, jika di setiap sudut2 tempat banyak noda kemaksiatan berkececeran.

Dari buku kriminologi syariah yang akhir-akhir ini aku baca, untuk solusi yang tepat untuk menyelesaikan luka lama ini adalah dengan meningkatkan kadar keimanan kepada Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, dan yang kedua adalah dengan beriman kepada hari akhir. Saat kondisi iman sedang bagus, dorongan nafsu yang muncul akan dikalahkan dengan tebalnya cahaya iman. Dengan beriman pada hari akhir tentu hal ini akan berkorelasi antara surga dan neraka, penimbangan amal, dan pertanggungjawaban atas segala hal yang dilakukan di dunia.

“barang ekonomi adalah barang terbatas yang dibutuhkan usaha untuk mendapatkannya”, barang konsumtif muncul karena dorongan dari kebutuhan masyarakat akan kegunaan barang tersebut.

Ketika semua laki-laki memiliki iman yang bagus, mereka tidak akan menyambangi tempat dalam tanda kutip, maka senada dan seirama dengan “barang konsumtif” tentunya tempat prostitusi akan gulung tikar karena tidak lagi dianggap sebagai “barang konsumtif” lagi.

Selain sebagai kota miskin, Pati juga tidak begitu sepopuler kudus. Ketika beberapa orang bertanya “pati itu dimana?” untuk nyari jawaban aman aku jawab saja “deketnya kudus” dan orang yang bertanyapun mengangguk sambil berkata “ooh” disatu kemungkinan mungkin dia tahu dimana Kudus itu, tapi kemungkinan lain mungkin dia juga mengambil respon aman.

Rendahnya pendidikan di Pati berbanding lurus dengan tingkat perdukunan. Tak heran banyak sekali disepanjang jalan di Pati, baik di pedesaaan maupun perkotaan, terdapat poster dan spanduk yang bertuliskan “cenayang  500m lagi”. Dari mulai dukun kecil-kecilan sampai dukun kelas kakap semuanya ada. Meskipun aku tidak tahu pasti apa service yang dilakukan dukun tersebut, namun dari beberapa testimoni pasien dukun, mereka datang untuk berbagai macam hal. Saat ujian akhir nasional mulai dekat, para pasien datang berbondong-bondong ke dukun dengan membawa pensil ujian untuk diisikan selain itu mereka juga membawa sekantung plastik berisi rokok atau gula untuk dihadiahkan kepada sang dukun. Katanya sih dikasih mantra-mantra agar jawaban yang diisi itu benar. Sungguh tak masuk di akal, memangnya pensil tersebut bisa berjalan sendiri lalu menghitamkan jawaban yang benar? Apakah semudah itu menggantungkan masadepan kepada pensil, benda mati yang tidak bernyawa dan berakal, ironis memang -___-

Kebetulan tetanggaku, selang beberapa rumah dari rumahku ada yang mengaku dukun, dia memiliki seorang anak buah yang rajin sekali mengkoar-koarkan berita Hoax mengenai majikannya. Dia pernah bercerita bahwa majikannya bisa merubah “kunir” menjadi bongkahan emas, kenapa tidak dirahasiakan saja hal se menakjubkan itu? Bukankah dia bisa mengkayakan dirinya sendiri? Coba saja bayangkan kalau dalam sehari dia bisa merubah satu kg kunir menjadi 1kg emas? Amazing bukan, bahkan kekayaannya mungkin bisa mengalahkan Bakrie Grup.

Tapi sekali lagi semua itu Hoax, bukankah mempercayai hal semacam itu sama saja menyelingkuhi Tuhan?

Karena banyaknya masyarakat kalangan dewasa-tua yang tidak mengenyam pendidikan sekolah maka seperti itulah mindset yang mengakar, maunya instan tidak mau usaha dan terikat kuat dengan animisme dan dinamisme.

“PATI BUMI MINA TANI”

Seperti itulah daerah tempatku tinggal saya, tanahnya subur, luas hijau membentang, dengan hasil pertanian yang melimpah ruah. Daerah kami adalah daerah yang makmur .__.

Karena di dalam hijaunya sawah yang membentang tersimpan luka lama yang menyeruak. Telanlah luka itu, biarkanlah luka itu diguyuri hujan lalu hanyut ke sungai. Biarkanlah laut yang menyimpan aib kami. Biarkanlah laut yang meceritakannya pada langit. Lalu langit terharu dan menangis. Namun dunia akan kembali tersenyum karena datangnya pelangi ._.

Uraian pendek diatas adalahsedikit gambaran mengenai kota Pati, di bumi tempat keluargaku berpijak, di bumi tempat aku dilahirkan, dan saksi dari ke-ada-anku.

Tapi saya garisbawahi disini, banyak realitas seperti di atas terjadi diberbagai kota di Indonesia, bahkan di Kota yang notabene adalah kota yang maju pesat.

ironi ini menjadi PR kita bersama ._.

Terimakasih Pati, mungkin suatu saat aku akan pulang dan menghasilkan sesuatu untukmu 

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s